Pentingnya Digitalisasi Bagi Subsektor Ekonomi Kreatif Kuliner di Indonesia

Subsektor ekonomi kreatif bidang kuliner memang menjadi andalan hampir di semua negara. Bisa dibilang, usaha di bidang kuliner adalah usaha yang nggak ada matinya. Sebab, semua orang butuh makan dan minum, kan?!

Tapi nyatanya, membuka usaha di bidang ini nggak semudah yang dibayangkan. Selain ada banyak saingan, mencari pelanggan juga jadi faktor yang sering membuat usaha ini gagal berlanjut.

Karena mengetahui kesulitan ini, maka pemerintah pun memberikan perhatian lebih terhadap bidang kuliner dan para pelaku usaha di dalamnya. Salah satu caranya adalah dengan pengoptimalan media digital.

Pentingnya Digitalisasi Untuk Semua Subsektor Ekonomi Kreatif

Sebenarnya digitalisasi nggak hanya berlaku untuk kuliner saja, tetapi juga untuk semua bidang. Pasalnya, sekarang ini kita udah masuk ke dunia digital, tempat semua sektor dihubungkan dengan internet dan dunia maya.

Terlebih lagi ketika masa pandemi, semua orang merasa lebih nyaman ketika berinteraksi secara digital untuk segala macam keperluan. Sayangnya, digitalisasi perlu lebih dikenalkan lagi, terutama pada masyarakat desa dan daerah yang belum banyak memiliki akses internet.

Namun memang untuk sekarang ini, sektor kuliner adalah yang paling diutamakan. Sebab pelaku usaha di bidang ini tercatat sebagai yang paling banyak dibandingkan subsektor lainnya, tapi sayangnya malah belum mengoptimalkan digitalisasi.

Untuk itulah pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencanangkan banyak program baru. Program ini dimaksudkan agar pelaku usaha kuliner bisa lebih mudah memasarkan produk mereka lewat cara digital.

Program-program ini sudah banyak berjalan, salah satunya adalah Ada di Warung dan juga Beli kreatif Lokal.

Program Pemerintah Untuk Usaha Kuliner

1. Ada di Warung

Program ini adalah sebuah jaringan distribusi yang akan membantu para pelaku usaha untuk menyalurkan produk kuliner mereka. Rantai bisnis ini menolong produk kuliner agar dapat dipasarkan di warung dan toko kelontong seluruh Indonesia. Dan nggak menutup kemungkinan juga minimarket dan swalayan besar juga dimasukkan ke dalam rantai distribusi ini.

Menurut Menteri Parekraf, Sandiaga Uno, program ini sudah berjalan dengan baik dan mampu membuat 4 juta pelaku usaha kuliner melek digital. Padahal target awal kemenparekraf hanya sebanyak dua juta saja.

Melihat antusiasme pelaku usaha kuliner, maka target untuk tahun ini pun dinaikkan sebesar delapan juta UMKM dan diharapkan mampu tercapai bahkan melampauinya.

2. Beli Kreatif Lokal

Sesuai dengan namanya, maka dalam program ini masyarakat diajak untuk lebih memilih produk lokal daripada produk luar. Sebab produk lokal memiliki kualitas yang bisa diadu dengan produk luar. Bahkan sebenarnya produk lokal lebih bisa memenuhi selera sebab memang produksinya disesuaikan dengan kebutuhan orang lokal.

Setiap pelaku usaha dapat mendaftar program ini. Nantinya akan ada bimbingan untuk melebarkan usaha, termasuk bantuan pengurusan pendirian badan hukum, sertifikasi HAKI, hingga keringanan pajak.

3. Pelatihan

Nggak cuma itu, agar proses digitalisasi berjalan mulus, maka juga perlu pembenahan di sektor lainnya yang berkaitan dengan itu. Salah satu pelatihan yang diberikan pemerintah kepada pelaku usaha di 16 subsektor ekonomi kreatif kemenparekraf adalah pelatihan kemasan produk.

Sebab sekarang ini banyak orang yang memutuskan membeli sebuah produk hanya berdasarkan kemasan. Nggak bisa dipungkiri, kemasan yang unik dapat merangsang rasa ingin membeli. Nggak percaya? Coba cek keranjang belanja di e-commerce milikmu. Apakah ada banyak barang “lucu” di sana?

Kebanyakan orang membeli barang karena kemasan yang unik yang cocok untuk dijadikan sebagai unggahan instagram. Dan memang terkadang rasa atau kualitas menjadi kategori kesekian. Tapi tentunya dalam pelatihan produk kuliner, bukan hanya kemasan yang harus diperhatikan tetapi juga terutama kualitas dan rasa produk tersebut.

Selain itu juga ada promosi dan voucher diskon yang bisa digunakan untuk semua acara yang diselenggarakan oleh platform e-commerce. Sehingga produk lokal pun bisa bersaing dengan produk asing, terlebih karena harga yang lebih murah namun kualitas yang lebih baik.

4. Penerapan Protokol Kesehatan

Yang nggak kalah penting, dan tentunya perlu digaris bawahi, bagi para pelaku kuliner adalah kebersihan dan keamanan selama proses pembuatan dan pengemasan produk kuliner. Sebab di saat pandemi seperti sekarang ini, konsumen menjadi lebih selektif.

Ketika pelanggan mengetahui bahwa pemilik usaha sudah menerapkan protokol kesehatan, misalnya memakai sarung tangan dan masker ketika melayani, maka pelanggan akan merasa aman membeli produk tersebut.

Catatan ini juga harus dimasukkan ke dalam platform e-commerce. Sehingga pelanggan yang memesan makanan lewat aplikasi pun tetap terlindungi dan aman meskipun tidak melihat langsung proses persiapannya.

Dengan digitalisasi, maka subsektor ekonomi kreatif khususnya bidang kuliner bisa kembali bangkit. Cakupan konsumen yang menggunakan produk ini pun bisa diperluas dengan biaya yang lebih efisien. Dengan demikian, kuliner Indonesia bisa lebih dikenalkan hingga ke luar negeri.